Tukang Sayur
By : Annisa Febrinel Hendry
Sabtu, 21 November 2009
09.30 WIB
Seperti biasanya, kalau aku gak kuliah pagi, aku menunggu bapak tukang sayur yang selalu lewat di depan rumah tanteku. Untuk membeli apa yang akan ku masak hari itu. Biasanya bapak itu lewat sekitar jam 07.30 – 08.00 pagi. Tadi jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.00, tapi teriakan bapak itu tak kunjung terdengar. Mungkin gak datang kali ya? Pikirku mengira- ngira. Akhirnya aku kembali ke kamarku.
Tiba- tiba hp ku bergetar. Ternyata mamaku nelpon. Sejak aku kuliah di UIN Jakarta ini, aku tinggal di rumah tanteku, adek mama, di perumahan Gria Jakarta Pamulang, Tangerang Selatan. Jadi aku jauh dari mama. Cuma lewat telponlah aku bias berbagi cerita sama mama.
Kemudian aku menceritakan ke mama kalau aku ada tugas membuat feature (roman) dari FLP. Feature adalah sejenis tulisan yang merupakan gabungan antara berita dengan karya fiksi seperti novel. Karangan harus fakta, tapi gaya penulisannya ada dialog seperti novel. Untuk membuatnya, tentu kita harus mewawancarai seorang nara sumber. Biasanya feature mengangkat cerita tentang orang kecil, seperti tukang sayur, tukang sol sepatu, pemulung, tukang sampah, pedagang kaki lima, dan lain sebagainya. Tugas ini sudah diberikan minggu lalu, dan dikumpulkan hari ini jam 1. Aku baru sempat membuatnya sekarang, karena hari Sabtu aku libur. Aku pun minta saran sama mama, aku sabaiknya mewawancarai siapa? Aku bilang aku mau mewawancarai tukang sayur, tetapi tukang sayurnya belum datang, kataku. Ya udah, tunggu aja dulu, saran mamaku.
Setengah jam kemudian, terdengar suara yang tidak asing lagi bagiku.
“Sayuuuur…sayuuuur…..!”
“Ahaaa, ini dia suara yang aku tunggu –tunggu,” gumamku dalam hati sambil tersenyum. Aku pun langsung beranjak dari tempat tidurku dan mengambil uang belanjaan.
Di seberang rumah tanteku, gerobak sayur bewarna biru milik bapak itu telah dikerubungi oleh ibu- ibu yang ingin belanja.
Hari ini aku ingin membeli teri kecil berwarna putih dan kacang tanah. Karena kalau dua-duanya aku “balado” in, biasanya laris dimakan adek – adek sepupuku.
“Berapa neng? 2 atau 3 kilo?” tanya bapak itu bercanda.
“Gak, Pak, aku butuh 5 kilo, he he…,” jawabku gak mau kalah. Bapak itu pun tersenyum.
Kemudian aku mengambil kacang tanah. Setelah itu aku membayarnya ke bapak itu. Sambil menyerahkan uang Rp14.000,00, aku bertanya beliau,
“Pak, boleh gak aku mewawancarai Bapak?
“Boleh,” jawabnya.
“ Tunggu ya Pak, aku ambil buku dan pensil dulu ke rumah.” kataku.
Tak berapa lama kemudian aku kembali dengan membawa buku dairy ku.
Sementara itu, ibu-ibu dan mbak-mbak yang sedang berbelanja tertawa melihat ulahku yang udah kayak wartawan aja.
Sambil melayani ibu- ibu yang sedang berbelanja, bapak itu pun menjawab pertanyaanku.
Bapak itu bernama Pak Sirwan, umur beliau sudah lebih setengah abad, 56 tahun. Aku kaget sekali, ketika beliau mengatakan kalau beliau belanja sayur ke pasar Cimanggis jam 12.00 malam. Mungkin waktu itu kita sedang tertidur nyenyak. Sementara beliau harus berbelanja sampai jam 03.00 pagi. Trus jam 04.30 beliau sudah berangkat dari rumahnya di Gang Buaran dekat danau, Sasak menuju perumahn Gria Jakarta. Jarak yang sangat jauh menurutku. Mungkin ada sekitar 3-5 km. Apalagi beliau haru mendorong gerobak yang penuh berisi sayuran.
“ Bapak lewat jalan pintas ya, Pak?” tanyaku.
“ Gak Neng, saya lewat jalan raya.” jawabnya.
Tak bisa aku membayangkan bagaimana bapak itu mendorong gerobaknya melewati jalan raya . Pasti susah sekali, karena banya kendaraan. Tetapi demi menghidupi istri dan anaknya, beliau rela membanting tulang.
Tidak hanya itu saja, kadang beliau gak tidur habis berbelanja.
“Ne Neng saya terkantuk- kantuk sekarang, karena gak tidur semalaman,” cerita bapak itu
Masya Allah, gumamku dalam hati. Aku terharu banget mendengar bapak itu.
Bapak itu mempunyai seorang istri, 4 anak, dan 4 cucu. Istrinya cuma ibu rumah tangga. Tiga anaknya sudah berumah tangga. Sementara putri sulungnya masih kelas 1 SMA. Jadi sang bapak tinggal membiayai sekolah anak bungsunya ini. Walaupun sudah berunur gini, beliau tetap semangat mendorong gerobaknya setiap subuh. Bapak itu berjual- beli sehari sekitar 2 juta. Setelah dibelanjakan lagi kira- kira beliau mendapatkan 100 ribu per hari.
Walaupun hujan, beliau memakai mantel, mengelilingi perumahan Gria Jakarta. Tak jarang juga beliau menghadapi ibu- ibu dan mbak- mabak cerewet, tapi beliau tetap sabar. Jam 12.00 siang, beliau baru pulang ke rumahnya. Dan baru bisa tidur. Aku tak bias membayangkan seberapa capeknya beliau.
Kini aku baru sadar, beliau sangat berjasa sekali terhadap semua penghuni perumahan gria. Kalau tidak ada beliau, pasti kami akan kerepotan mencari apa yang akan dimasak tiap hari. Terima kasih Pak Sirwan, tukang sayur penghuni perumahan gria.
Selamat Membaca
Minggu, 04 April 2010
Kecelakaan di Hari Pernikahan Ni Elsa
Kecelakaan di Hari Pesta pernikahan Ni Elsa
By: Annisa Febrinel Hendry
12 Desember 2008, Ni Elsa, sepupuku “Barolek”. Waktu itu aq bikin baju seragam sama mama q, mama ni elsa, n adek q. Pokoknya kayak kebaya dech bahannya. Tapi dibikin kayak baju kuruang. Bajunya berwarna biru, dihiasi bunga- bunga berwarna emas. Songketnya bermotif kotak- kotak, warna biru dan orange. Baju itu dibikinnya mepet sama hari barolek uni Elsa, jadi selesainya sore hari sebelum hari H. Ni Elsa baroleknya hari Jumat, baju nya selesai sore Kamis.
Keesokan harinya, aku memakai baju baru q. Ni Elsa diarak dari rumah amak (nenek q), secara adat minang, mempelai di arak dari rumah keluarga bapaknya. Ni Elsa akan di arak pakai bendi.
Ni Elsa dan Da Eri, suaminya, didandani oleh perias pengantinnya di rumah amak. Tiba- tiba periasnya bilang, kalau “soluak” atau tutup kepala pengantin prianya ketinggalan di rumahnya. Dia nyuruh aku untuk menjemputnya. Aku kenal kok sama dia, dan aku juga tau rumahnya dimana. Sekitar 5 km lah dari rumahku.
Akupun pergi dengan Aldi, adekku mengendarai varioku. Waktu itu aku sudah mengenakkan baju kebaya baruku. Ketika tiba di perbatasan daerah korong dan padang batang, aku menambah kecepatan motorku, karena lumayan sepi, kan perbatasan. Tiba- tiba ada seekor anjing melintas begitu cepat di depan motorku. Aaaaaaahhh…aku tak bisa lagi mengendalikan sepeda motorku. Kami pun terjatuh. Auw,,,
Beberapa lama kemudian penduduk disitu menolong kami. Mereka menyelamatkan aq dan adekku yang dihimpit motor. Pakai kebaya lagi. Kulihat adekku begitu pucat, tangannya gak bisa digerakkan. Dia merintih kesakitan. Akupun khawatir sekali melihatnya. Adekku digendong sama bapak- bapak disitu. Aku yang gak tau mau berbuat apa bilang kalau aku pulang dulu bilang ke mamaku kalau kami kecelakaan. Dengan susah payah aku mengendarai motorku, Adekku aku tinggal di tempat kecelakaan tadi. Masalah keaadaanku sech aku belum tau, seberapa parah luka- lukaku. Aku kan pakai songket, songketnya gak dijahit, jadi pas jatuh,kakiku langsung menyentuh aspal. Oh my god,,,kakiku mengeluarkan darah. Ada 3 tumpuk yang luka. Selebar 3 jari…ada yang terkelupasnya dalam banget,,hiks…betapa perihnya…huhuhu…Ku liahat kebayaku banyak yang sobek,,,padahal baru dibikin kemarin, hiks hiks…:’(
Sesampainya di rumah, aku menceritakan semuanya. Om ku (my step father), segera menjemput adekku. Dan membawanya berurut. Sementara di rumahku lagi rame banget. Musik yang akan mengiringi arakan sudah terdengar kemana- mana.
Akhirnya, setelah semuanya siap, acara arakanpun dimulai, aku juga ikut naek bendi, tapi bendi yang kedua. Aku tetap senyum, seperti tidak terjadi apa- apa, padahal,,,periiih bangeet…:’(
Arakan berakhir di rumah uni Elsa. Di sana pengantin sudah ditunggu. Sungguh pesta pernikahan begitu besar di keluarga kami. Pelaminannya di luar. Tendanya gede- gede. Bisa makan di dalam rumah, n’ bisa juga di luar.
Disitu aku minta didandani sama perias pengantinnya. Pokoknya kalau aku gak ngasih tau bahwa aku habis kecelakaan, orang- orang gak bakal tau dech, karena aku tetap seperti biasa.
Teman- teman yang aku undang pada berdatangan. Aku juga mencerikankan kejadian yang menimpaku tadi. Mereka ngeri melihat luka- lukaku.
Sebelumnya aku berfikir, hari pernikahan Ni Elsa yang kutunggu- tunggu, merupakan hari bahagia juga bagiku. Karena keluarga ku mengadakan pesta besar, dan akupun makai seragam baru,,,tapi ternyata…hari kehagiaan bagi Ni Elsa,,,hari yang pediih bangeet bagiku,,,walaupun sebenarnya aku juga bahagia sech…huhuhu….
Malamnya,,,aaahhh,,susah tiduur,,,sakiit bangeet…2 hari lagi aku akan ujian semester 1 lagi,,,
KITA SEBAGAI MANUSIA HANYA BISA BERENCANA, TAPI TUHAN JUALAH YANG MENENTUKAN
Selamat membaca…!!!!
By: Annisa Febrinel Hendry
12 Desember 2008, Ni Elsa, sepupuku “Barolek”. Waktu itu aq bikin baju seragam sama mama q, mama ni elsa, n adek q. Pokoknya kayak kebaya dech bahannya. Tapi dibikin kayak baju kuruang. Bajunya berwarna biru, dihiasi bunga- bunga berwarna emas. Songketnya bermotif kotak- kotak, warna biru dan orange. Baju itu dibikinnya mepet sama hari barolek uni Elsa, jadi selesainya sore hari sebelum hari H. Ni Elsa baroleknya hari Jumat, baju nya selesai sore Kamis.
Keesokan harinya, aku memakai baju baru q. Ni Elsa diarak dari rumah amak (nenek q), secara adat minang, mempelai di arak dari rumah keluarga bapaknya. Ni Elsa akan di arak pakai bendi.
Ni Elsa dan Da Eri, suaminya, didandani oleh perias pengantinnya di rumah amak. Tiba- tiba periasnya bilang, kalau “soluak” atau tutup kepala pengantin prianya ketinggalan di rumahnya. Dia nyuruh aku untuk menjemputnya. Aku kenal kok sama dia, dan aku juga tau rumahnya dimana. Sekitar 5 km lah dari rumahku.
Akupun pergi dengan Aldi, adekku mengendarai varioku. Waktu itu aku sudah mengenakkan baju kebaya baruku. Ketika tiba di perbatasan daerah korong dan padang batang, aku menambah kecepatan motorku, karena lumayan sepi, kan perbatasan. Tiba- tiba ada seekor anjing melintas begitu cepat di depan motorku. Aaaaaaahhh…aku tak bisa lagi mengendalikan sepeda motorku. Kami pun terjatuh. Auw,,,
Beberapa lama kemudian penduduk disitu menolong kami. Mereka menyelamatkan aq dan adekku yang dihimpit motor. Pakai kebaya lagi. Kulihat adekku begitu pucat, tangannya gak bisa digerakkan. Dia merintih kesakitan. Akupun khawatir sekali melihatnya. Adekku digendong sama bapak- bapak disitu. Aku yang gak tau mau berbuat apa bilang kalau aku pulang dulu bilang ke mamaku kalau kami kecelakaan. Dengan susah payah aku mengendarai motorku, Adekku aku tinggal di tempat kecelakaan tadi. Masalah keaadaanku sech aku belum tau, seberapa parah luka- lukaku. Aku kan pakai songket, songketnya gak dijahit, jadi pas jatuh,kakiku langsung menyentuh aspal. Oh my god,,,kakiku mengeluarkan darah. Ada 3 tumpuk yang luka. Selebar 3 jari…ada yang terkelupasnya dalam banget,,hiks…betapa perihnya…huhuhu…Ku liahat kebayaku banyak yang sobek,,,padahal baru dibikin kemarin, hiks hiks…:’(
Sesampainya di rumah, aku menceritakan semuanya. Om ku (my step father), segera menjemput adekku. Dan membawanya berurut. Sementara di rumahku lagi rame banget. Musik yang akan mengiringi arakan sudah terdengar kemana- mana.
Akhirnya, setelah semuanya siap, acara arakanpun dimulai, aku juga ikut naek bendi, tapi bendi yang kedua. Aku tetap senyum, seperti tidak terjadi apa- apa, padahal,,,periiih bangeet…:’(
Arakan berakhir di rumah uni Elsa. Di sana pengantin sudah ditunggu. Sungguh pesta pernikahan begitu besar di keluarga kami. Pelaminannya di luar. Tendanya gede- gede. Bisa makan di dalam rumah, n’ bisa juga di luar.
Disitu aku minta didandani sama perias pengantinnya. Pokoknya kalau aku gak ngasih tau bahwa aku habis kecelakaan, orang- orang gak bakal tau dech, karena aku tetap seperti biasa.
Teman- teman yang aku undang pada berdatangan. Aku juga mencerikankan kejadian yang menimpaku tadi. Mereka ngeri melihat luka- lukaku.
Sebelumnya aku berfikir, hari pernikahan Ni Elsa yang kutunggu- tunggu, merupakan hari bahagia juga bagiku. Karena keluarga ku mengadakan pesta besar, dan akupun makai seragam baru,,,tapi ternyata…hari kehagiaan bagi Ni Elsa,,,hari yang pediih bangeet bagiku,,,walaupun sebenarnya aku juga bahagia sech…huhuhu….
Malamnya,,,aaahhh,,susah tiduur,,,sakiit bangeet…2 hari lagi aku akan ujian semester 1 lagi,,,
KITA SEBAGAI MANUSIA HANYA BISA BERENCANA, TAPI TUHAN JUALAH YANG MENENTUKAN
Selamat membaca…!!!!
Bolang dari Gria Jakarta
Hari : Jumat, 26 Februari 2010
Pukul : 07.00-09.00 am
Jumat, 26 Februari merupakan tanggal merah. Kenapa? karena hari ini adalah hari maulid nabi/ hari ultah nabi Muhammad SAW. Karena libur, aku dan adek2 anak blok A pergi jalan sehat/jogging. Yang pergi yaitu: Alwan, Dika, Sarah, Huda, Kenda, Hani, Nana dan aq sendiri.
Pertamanya kami jalan menuju Gria yang satu lagi,,gak tw tuh apa namanya. Di perjalanan kami melihat ada bapak-bapak yang sedang menebang pohon seri. Kami pun berhenti. Salah satu dari kami bertanya kepada bapak itu.
"Pak, boleh gak kami ambil buahnya yang mateng-mateng itu, Pak? tanya Nana.
"Oo ya,,ambil saja,," jawab bapak itu.
Kami pun langsung memetik buah- buah seri yang merah-merah tersebut. Wow..yang mateng banyak sekali. Mungkin gak pernah dipetik oleh yang punya.
Setelah terkumpul banyak, kami melanjutkan perjalanan. Seri yang udah kami kumpulkan tadi, kami foto. Sebenarnya kami juga gak terlalu suka buah seri, tapi karena melihat banyak banget, daripada dibuang,,yaa kami ambil aja. Trus kami bingung,,buah seri yang banyak ini mau diapain. Mau dimakan semua,,terlalu banyak. Aku pun punya ide. Aku nantang adek2 nya main lempari buah seri ke atas,,kemudian ditangkep pakai mulut. Aku pun memberikan contoh. Haap...alhamdulillah ketangkep. Sampai tiga kali berturut2 terus ketangkep. Adek2 itu pun meniru q,,pertamanya sech masih susah bagi mereka. Ada yang pas dilempar,,bukannya masuk mulut,malah nimpuk gigi mereka,,ada yang terlempar jauh. Pokoknya lucu- lucu dech ekspresi mereka,,heheh...
Akhirnya, mereka berhasil juga nangkep seri pakai mulut. Malah Nana ampe 7x lemparan,n' masuk semua. Horee...Sampai akhirnya, buah seri yang banyak tadi habis semua. Kebayakan sech yang makan adalah tanah,,karna gak berhasil nangkep,,hahaha...:D
Perjalanan dilanjutkan. Aq gak tau anak2 itu mu kemana. Yang penting q ikutin aja. Itung2 nyari pengalaman.
Ternyata mereka mau ke danau, melewati jalan2 kampung yang becek banget. Sampai akhirnya kami melewati turunan yang licin banget tanahnya. Kami turun satu persatu. Aq turun paling terakhir, karena aq takut tergelincir. Huft,,berhasil juga,,tapi sendal udah gak kayak sendal lagi. Udah tebal karena tanah...
Pukul : 07.00-09.00 am
Jumat, 26 Februari merupakan tanggal merah. Kenapa? karena hari ini adalah hari maulid nabi/ hari ultah nabi Muhammad SAW. Karena libur, aku dan adek2 anak blok A pergi jalan sehat/jogging. Yang pergi yaitu: Alwan, Dika, Sarah, Huda, Kenda, Hani, Nana dan aq sendiri.
Pertamanya kami jalan menuju Gria yang satu lagi,,gak tw tuh apa namanya. Di perjalanan kami melihat ada bapak-bapak yang sedang menebang pohon seri. Kami pun berhenti. Salah satu dari kami bertanya kepada bapak itu.
"Pak, boleh gak kami ambil buahnya yang mateng-mateng itu, Pak? tanya Nana.
"Oo ya,,ambil saja,," jawab bapak itu.
Kami pun langsung memetik buah- buah seri yang merah-merah tersebut. Wow..yang mateng banyak sekali. Mungkin gak pernah dipetik oleh yang punya.
Setelah terkumpul banyak, kami melanjutkan perjalanan. Seri yang udah kami kumpulkan tadi, kami foto. Sebenarnya kami juga gak terlalu suka buah seri, tapi karena melihat banyak banget, daripada dibuang,,yaa kami ambil aja. Trus kami bingung,,buah seri yang banyak ini mau diapain. Mau dimakan semua,,terlalu banyak. Aku pun punya ide. Aku nantang adek2 nya main lempari buah seri ke atas,,kemudian ditangkep pakai mulut. Aku pun memberikan contoh. Haap...alhamdulillah ketangkep. Sampai tiga kali berturut2 terus ketangkep. Adek2 itu pun meniru q,,pertamanya sech masih susah bagi mereka. Ada yang pas dilempar,,bukannya masuk mulut,malah nimpuk gigi mereka,,ada yang terlempar jauh. Pokoknya lucu- lucu dech ekspresi mereka,,heheh...
Akhirnya, mereka berhasil juga nangkep seri pakai mulut. Malah Nana ampe 7x lemparan,n' masuk semua. Horee...Sampai akhirnya, buah seri yang banyak tadi habis semua. Kebayakan sech yang makan adalah tanah,,karna gak berhasil nangkep,,hahaha...:D
Perjalanan dilanjutkan. Aq gak tau anak2 itu mu kemana. Yang penting q ikutin aja. Itung2 nyari pengalaman.
Ternyata mereka mau ke danau, melewati jalan2 kampung yang becek banget. Sampai akhirnya kami melewati turunan yang licin banget tanahnya. Kami turun satu persatu. Aq turun paling terakhir, karena aq takut tergelincir. Huft,,berhasil juga,,tapi sendal udah gak kayak sendal lagi. Udah tebal karena tanah...
Selamat Jalan Nenek Q Sayang...!!!
Seketika wajahku merah padam mendengar berita itu. Aku nggak tau harus berbuat apa, mau nangis, tapi aku malu. Aku pun berusaha menahan cairan bening di sudut mataku. Ini hanya mimpi, ini hanya mimpi…jeritku dalam hati. Tapi tadi jelas banget terdengar di telingaku, ketika kakak sepupuku diberitahukan oleh papanya dari kampung kalau nenekku telah berpulang ke rahmatullah barusan. Baru 5 bulan aku meninggalkan nenek untuk melanjutkan pendidikanku di Jakarta, sekarang nenek sudah menghadap yang Maha Kuasa. Nenek adalah mama kedua bagiku. Bagaimana tidak, dari kecil aku diasuh oleh nenek, semenjak papaku meninggal 16 tahun yang lalu. Aku tinggal bersama nenek dan datuk. Bahkan ketika mau berangkat ke Jakarta kemarin, sebenarnya aku berat meninggalkan nenek. Sebab, pasti nenek nggak punya teman lagi di rumah. Hanya tinggal berdua dengan datuk. Tapi, ini demi masa depanku. Dengan berat hati, aku pergi sehari setelah pemilu, 8 juli 2009.
Sekarang aku lagi di rumah om, kakak mamaku. Seperti biasa setelah pulang kuliah, aku menunggu tanteku pulang ngajar dari Al-azhar di rumah om. Karena aku tinggal di rumah tanteku di Pamulang. Om sudah sibuk menyuruh Uda Romi, sepupuku untuk mencari informasi tiket ke Padang malam ini. Kebetulan omku punya warnet. Jadi uda Romi langsung mencarinya. Tetapi setelah ditelusuri sana-sini, tiket untuk penerbangan hari ini sudah habis.
Beberapa lama kemudian, tanteku tiba. Dia belum tau berita meninggalnya nenek. Yang dia tau, tadi siang nenekku sakit parah. Aku pun langsung berlari ke arah tanteku yang masih di atas motornya.
“Tan, ne..neneek…hiks…” ucapku terbata-bata dan berusaha untuk tetap tegar.
“Kenapa dengan nenek?”
“Ne..nenek meninggal barusaan…!” aku tak kuasa lagi menahan tangisku.
Mendengar jawabanku, tanteku langsung histeris. Motor yang dipegangnya langsung dilepas begitu saja. Untung saja Uda Romi mengambil alih motornya. Tanteku pun langsung masuk ke rumah om dan menangis sekeras-kerasnya, sambil meronta-ronta di lantai. Sampai dia nggak sadar, kalau tas laptop yang dibawanya belum dilepas.
“Ondeh Maak..tadi aku udah berencana membawa anakku pulang kampung pakai mobilku. Itu kan yang ibu minta dariku akhir-akhir ini? Tapi kenapa amak nggak menunggu akuu…Kenapa amak ninggalin aku secepat inii…?” tanteku terus saja berteriak-teriak. Sepertinya dia tidak bisa memaafkan kesalahannya sendiri. Menyesal dan sangat menyesal. Karena sudah memang 1,5 tahun tanteku nggak pulang kampung.
Kemarin waktu lebaran, tanteku udah berencana pulang, tetapi ternyata dia harus mengikuti prajabnas di kota Tangerang. Jadinya rencana pulang terpaksa dibatalin. Tanteku menjanjikan ke nenek untuk pulang liburan semester 1 ini, sekitar awal Januari 2010, 3 bulan lagi. Nenek bilang beliau sangat kangen sama tanteku. Sampai-sampai nenek pernah bilang, “Kalau kamu nggak bisa bawa anak-anakmu pulang, cukup kamu saja yang pulang dulu,” kata nenekku saking kangennya. Tapi nasi telah jadi bubur, nenekku sudah pergi untuk selamanya dan tidak mungkin untuk kembali lagi.
***
Setelah tanteku agak tenang, omku membicarakan tentang kepulangan kami. Keputusannya, sekarang aku dan tanteku pulang ke Pamulang dan bersiap diri untuk pulang kampung. Nanti om dan Uda Devi, seorang pemuda yang juga dari Padang yang sering main ke rumah omku, akan menyusul kami ke Pamulang. Kami akan diantarkan oleh uda Devi menggunakan mobil tanteku.
Ternyata bumi juga menangis. Hujan deras menemani perjalanan kami menuju bandara Soekarno-Hatta. Uda Devi berusaha menyetir dengan sekencang mungkin. Supaya kami cepat sampai bandara.
Akhirnya, kami sampai jam 19.00 WIB. Om dan tanteku mulai mencari tiket. Tetapi, jawaban mereka, rata-rata sama. Yang intinya menyatakan kalau tidak ada lagi tiket untuk penerbangan malam ini. Tentu saja kami kecewa sekaligus cemas sekali, kalau saja nggak dapat tiket.
Tanteku teringat akan seorang wali muridnya yang pernah membantunya waktu pulang 1,5 tahun yang lalu, waktu nenek sakit parah. Tanteku pun menghubungi ibu Hj. Neny lagi. Barangkali ibu Hj. Neny bisa membantu lagi.
Ibu Hj. Neny bilang, kalau orangnya yang bekerja di bandara, lagi bertugas di Mekah. Tapi dia tetap menghubungi orangnya itu. Kemudian ibu Neny memberikan no hp bapak itu, sebutlah namanya Pak Bayu.
Pak Bayu bilang ke tanteku, dia akan berusaha mencarikan tiket. Tapi sekarang cuma ada waiting list alias cadangan untuk penerbangan dengan pesawat Garuda pukul 06.00 besok pagi.
Berarti malam ini, kami tidur di bandara. Kami pun menuju mobil. Kami semua sudah berharap-harap cemas. Bagaimana kalau kami nggak dapat tiket buat pulang besok? Artinya kami tidak melihat nenek untuk yang terakhir kalinya.
Sekitar jam 22.00, Pak Bayu menelpon tanteku. Dia bilang, kalau ada 1 tiket yang sudah pasti bisa. Tapi pertanyaannya, itu buat siapa dulu? Akhirnya tiket itu dipastikan untuk tanteku. Jadi untuk saat ini, tanteku sudah aman. Dia sudah bisa dipastikan bisa terbang besok. Sementara aku dan omku, masih sebagai waiting list. Harapan kami, ada orang yang membatalkan penerbangannya, sehingga kami bisa menggantikannya.
Ya Allah…tolonglah kami…aku ingin mengantarkan nenekku ke tempat peristirahatan terakhir beliau, Ya Allah…aku yakin Engkau pasti mencarikan jalan yang terbaik buat kami…aku berdo’a dalam hati.
***
Semalam, aku hampir nggak bisa tidur. Aku terus terbayang-bayang wajah nenek. Otak sadarku masih belum percaya apa yang tengah terjadi sekarang ini. Jam sudah menunjukkan angka 04.30 WIB. Kami segera menuju Mushola bandara untuk sholat subuh. Sumpah, ini pengalaman pertamaku tidur di Bandara. Kulihat di sekitar Bandara keliatan sepi.
Di sekitar Mushola, aku melihat banyak jamaah haji yang baru pulang dari tanah suci. Mungkin mereka baru landing, atau semalam juga tidur di bandara karena landing kemalaman. Aku nggak tau deh..
Setelah sholat, kami langsung menuju loket tiket, melihat kabar terbaru. Al hasil, masih sama seperti semalam, belum ada yang mengundurkan diri. Kami menjadi lesu mendengarnya. Kata mbaknya tunggu saja dulu.
Sekarang sudah pukul 05.30, artinya penerbangan tinggal 30 menit lagi. Sementara calon penumpang sudah dipanggil-panggil dari tadi untuk segera memasuki ruang tunggu. Kami masih belum dapat kepastian tentang tiketnya. Jantungku sudah berdetak 3x lebih kencang dari biasanya. Karena kemungkinan aku dan omku bisa pulang itu tipis sekali. Nggak kerasa, tinggal 10 menit lagi. Tanteku bertanya pada omku. Bagaimana ini? Apa dia harus masuk dulu? Tapi omku belum mengizinkan tanteku masuk ke ruang tunggu. Dari luar, kami melihat para penumpang sudah berjalan menuju pesawat.
Ya Allah…apa yang harus aku lakukan? Aku pasrah saja, mungkin sudah takdirku untuk tidak bertemu nenek lagi.
Allah pun menjawab do’a ku, penjaga loket memberitahukan omku, kalau ada 2 tiket yang tersisa, tapi tiket eksekutif. Tanpa berpikir panjang lagi, omku langsung menerima. Tiket yang biasanya hanya berkisar sekitar 400-500 an, kali ini 5x lipat dari biasanya. Tapi tak apa-apa lah, daripada nggak bisa pulang.
Setelah membayarnya, kami langsung berlari- lari menuju bis bandara. Karena memang para penumpang yang lain telah berada di pesawat. Di situ ada sekitar 10 orang yang juga terlambat. Walaupun begitu, kami lega sekali.
Kami pun memasuki pesawat. Baru saja aku masuk, aku melihat seorang pria berjas yang taka sing lagi bagiku. Tapi siapa ya? Setelah berfikir- fakir…Ahaa, itu kan Pak Gamawan Fauzi. Mantan gubernur Sumatera Barat, yang kini menjabat sebagai menteri dalam negeri. Oh my god, aku 1 pesawat sama salah satu pejabat Negara. Sama-sama di eksekutif lagi. Bapak itu duduk di barisan pertama sebelah kanan. Dalam bagian eksekutif itu hanya ada 10 orang. Aku bahagia sekali. Karena, dalam kejadian yang mendesak ini, aku punya kesempatan naik pesawat di bagian eksekutif. Yang tak kan pernah ku rasakan, kalau seandainya gak ada kejadian ini. Pelayanannya sangat special. Pertamanya, masing-masing kita dikasih Koran Kompas. Kemudian dikasih sapu tangan hangat, buat menghangatkan tangan kita. Setelah itu, kita disuguhkan sarapan. Ada omlet, teh hangat, buah, roti,dll. Sungguh, ini pengalaman pertamaku di bangku eksekutif (norak banget,hehhe).
Tapi di balik kesenanganku itu, aku menyaadari, kalau aku ini pulang, bukan dalam rangka mau liburan. Tapi mau melepas kepergian nenek. Hiks, aku sedih lagi. Sekarang nenek sedang terbaring kaku menunggu kedatangan kami.
***
Kami pun landing di bandara Internasional Minangkabau sekitar pukul 7.30 WIB. Perjalanan kami belum berakhir. Untuk mencapai rumah, kami harus naik mobil dulu selama 3 jam.
Di perjalan, aku berfikir, ntar sesampainya di rumah aku harus sabar, berusaha untuk tidak terlalu histeris.
Kami sampai pukul 11.00 WIB. Masih 100 m lagi menuju rumah, tapi aku sudah melihat keramaian di depan rumahku. Di depan rumah sudah terpasang sebuah tenda, untuk para pelayat. Dag dig dug…jantungku kembali berdetak kencang. Mamaku membuka pintu mobil, dan aku pun tak kuasa menahan tangisku. Sambil dituntun mamaku, aku terus menangis sekencang-kencangnya. Bahkan aku tidak langsung dibawa melihat nenekku di atas rumah, karena khawatir aku akan histeris di sana.
Tapi beberapa lama kemudian, aku naik ke atas rumah. Nenek yang melepas kepergianku 5 bulan yang lalu, sekarang sudah tak bergerak lagi ketika aku pulang. Padahal aku ingin mengatakan kepada nenek, bahwa sekarang aku sudah bisa masak. Tidak seperti dulu, dulu aku nggak bisa masak apa-apa. Di Jakarta, aku sudah merencanakan, kalau aku pulang nanti, aku akan pamer ke nenek, kalau aku sudah pintar masak, dan akan masak buat nenek. Tapi sekarang, nenek nggak bakal menanggapi aku,,,Neek..ngomong doong…Itu semua nggak mungkin, aku harus mengikhlaskan kepergian nenek. Selamat jalan, nenekku sayaaang..!!!
Gria Jakarta, 18 Maret 2010, 22.00 WIB,
bercucuran air mata…
Sekarang aku lagi di rumah om, kakak mamaku. Seperti biasa setelah pulang kuliah, aku menunggu tanteku pulang ngajar dari Al-azhar di rumah om. Karena aku tinggal di rumah tanteku di Pamulang. Om sudah sibuk menyuruh Uda Romi, sepupuku untuk mencari informasi tiket ke Padang malam ini. Kebetulan omku punya warnet. Jadi uda Romi langsung mencarinya. Tetapi setelah ditelusuri sana-sini, tiket untuk penerbangan hari ini sudah habis.
Beberapa lama kemudian, tanteku tiba. Dia belum tau berita meninggalnya nenek. Yang dia tau, tadi siang nenekku sakit parah. Aku pun langsung berlari ke arah tanteku yang masih di atas motornya.
“Tan, ne..neneek…hiks…” ucapku terbata-bata dan berusaha untuk tetap tegar.
“Kenapa dengan nenek?”
“Ne..nenek meninggal barusaan…!” aku tak kuasa lagi menahan tangisku.
Mendengar jawabanku, tanteku langsung histeris. Motor yang dipegangnya langsung dilepas begitu saja. Untung saja Uda Romi mengambil alih motornya. Tanteku pun langsung masuk ke rumah om dan menangis sekeras-kerasnya, sambil meronta-ronta di lantai. Sampai dia nggak sadar, kalau tas laptop yang dibawanya belum dilepas.
“Ondeh Maak..tadi aku udah berencana membawa anakku pulang kampung pakai mobilku. Itu kan yang ibu minta dariku akhir-akhir ini? Tapi kenapa amak nggak menunggu akuu…Kenapa amak ninggalin aku secepat inii…?” tanteku terus saja berteriak-teriak. Sepertinya dia tidak bisa memaafkan kesalahannya sendiri. Menyesal dan sangat menyesal. Karena sudah memang 1,5 tahun tanteku nggak pulang kampung.
Kemarin waktu lebaran, tanteku udah berencana pulang, tetapi ternyata dia harus mengikuti prajabnas di kota Tangerang. Jadinya rencana pulang terpaksa dibatalin. Tanteku menjanjikan ke nenek untuk pulang liburan semester 1 ini, sekitar awal Januari 2010, 3 bulan lagi. Nenek bilang beliau sangat kangen sama tanteku. Sampai-sampai nenek pernah bilang, “Kalau kamu nggak bisa bawa anak-anakmu pulang, cukup kamu saja yang pulang dulu,” kata nenekku saking kangennya. Tapi nasi telah jadi bubur, nenekku sudah pergi untuk selamanya dan tidak mungkin untuk kembali lagi.
***
Setelah tanteku agak tenang, omku membicarakan tentang kepulangan kami. Keputusannya, sekarang aku dan tanteku pulang ke Pamulang dan bersiap diri untuk pulang kampung. Nanti om dan Uda Devi, seorang pemuda yang juga dari Padang yang sering main ke rumah omku, akan menyusul kami ke Pamulang. Kami akan diantarkan oleh uda Devi menggunakan mobil tanteku.
Ternyata bumi juga menangis. Hujan deras menemani perjalanan kami menuju bandara Soekarno-Hatta. Uda Devi berusaha menyetir dengan sekencang mungkin. Supaya kami cepat sampai bandara.
Akhirnya, kami sampai jam 19.00 WIB. Om dan tanteku mulai mencari tiket. Tetapi, jawaban mereka, rata-rata sama. Yang intinya menyatakan kalau tidak ada lagi tiket untuk penerbangan malam ini. Tentu saja kami kecewa sekaligus cemas sekali, kalau saja nggak dapat tiket.
Tanteku teringat akan seorang wali muridnya yang pernah membantunya waktu pulang 1,5 tahun yang lalu, waktu nenek sakit parah. Tanteku pun menghubungi ibu Hj. Neny lagi. Barangkali ibu Hj. Neny bisa membantu lagi.
Ibu Hj. Neny bilang, kalau orangnya yang bekerja di bandara, lagi bertugas di Mekah. Tapi dia tetap menghubungi orangnya itu. Kemudian ibu Neny memberikan no hp bapak itu, sebutlah namanya Pak Bayu.
Pak Bayu bilang ke tanteku, dia akan berusaha mencarikan tiket. Tapi sekarang cuma ada waiting list alias cadangan untuk penerbangan dengan pesawat Garuda pukul 06.00 besok pagi.
Berarti malam ini, kami tidur di bandara. Kami pun menuju mobil. Kami semua sudah berharap-harap cemas. Bagaimana kalau kami nggak dapat tiket buat pulang besok? Artinya kami tidak melihat nenek untuk yang terakhir kalinya.
Sekitar jam 22.00, Pak Bayu menelpon tanteku. Dia bilang, kalau ada 1 tiket yang sudah pasti bisa. Tapi pertanyaannya, itu buat siapa dulu? Akhirnya tiket itu dipastikan untuk tanteku. Jadi untuk saat ini, tanteku sudah aman. Dia sudah bisa dipastikan bisa terbang besok. Sementara aku dan omku, masih sebagai waiting list. Harapan kami, ada orang yang membatalkan penerbangannya, sehingga kami bisa menggantikannya.
Ya Allah…tolonglah kami…aku ingin mengantarkan nenekku ke tempat peristirahatan terakhir beliau, Ya Allah…aku yakin Engkau pasti mencarikan jalan yang terbaik buat kami…aku berdo’a dalam hati.
***
Semalam, aku hampir nggak bisa tidur. Aku terus terbayang-bayang wajah nenek. Otak sadarku masih belum percaya apa yang tengah terjadi sekarang ini. Jam sudah menunjukkan angka 04.30 WIB. Kami segera menuju Mushola bandara untuk sholat subuh. Sumpah, ini pengalaman pertamaku tidur di Bandara. Kulihat di sekitar Bandara keliatan sepi.
Di sekitar Mushola, aku melihat banyak jamaah haji yang baru pulang dari tanah suci. Mungkin mereka baru landing, atau semalam juga tidur di bandara karena landing kemalaman. Aku nggak tau deh..
Setelah sholat, kami langsung menuju loket tiket, melihat kabar terbaru. Al hasil, masih sama seperti semalam, belum ada yang mengundurkan diri. Kami menjadi lesu mendengarnya. Kata mbaknya tunggu saja dulu.
Sekarang sudah pukul 05.30, artinya penerbangan tinggal 30 menit lagi. Sementara calon penumpang sudah dipanggil-panggil dari tadi untuk segera memasuki ruang tunggu. Kami masih belum dapat kepastian tentang tiketnya. Jantungku sudah berdetak 3x lebih kencang dari biasanya. Karena kemungkinan aku dan omku bisa pulang itu tipis sekali. Nggak kerasa, tinggal 10 menit lagi. Tanteku bertanya pada omku. Bagaimana ini? Apa dia harus masuk dulu? Tapi omku belum mengizinkan tanteku masuk ke ruang tunggu. Dari luar, kami melihat para penumpang sudah berjalan menuju pesawat.
Ya Allah…apa yang harus aku lakukan? Aku pasrah saja, mungkin sudah takdirku untuk tidak bertemu nenek lagi.
Allah pun menjawab do’a ku, penjaga loket memberitahukan omku, kalau ada 2 tiket yang tersisa, tapi tiket eksekutif. Tanpa berpikir panjang lagi, omku langsung menerima. Tiket yang biasanya hanya berkisar sekitar 400-500 an, kali ini 5x lipat dari biasanya. Tapi tak apa-apa lah, daripada nggak bisa pulang.
Setelah membayarnya, kami langsung berlari- lari menuju bis bandara. Karena memang para penumpang yang lain telah berada di pesawat. Di situ ada sekitar 10 orang yang juga terlambat. Walaupun begitu, kami lega sekali.
Kami pun memasuki pesawat. Baru saja aku masuk, aku melihat seorang pria berjas yang taka sing lagi bagiku. Tapi siapa ya? Setelah berfikir- fakir…Ahaa, itu kan Pak Gamawan Fauzi. Mantan gubernur Sumatera Barat, yang kini menjabat sebagai menteri dalam negeri. Oh my god, aku 1 pesawat sama salah satu pejabat Negara. Sama-sama di eksekutif lagi. Bapak itu duduk di barisan pertama sebelah kanan. Dalam bagian eksekutif itu hanya ada 10 orang. Aku bahagia sekali. Karena, dalam kejadian yang mendesak ini, aku punya kesempatan naik pesawat di bagian eksekutif. Yang tak kan pernah ku rasakan, kalau seandainya gak ada kejadian ini. Pelayanannya sangat special. Pertamanya, masing-masing kita dikasih Koran Kompas. Kemudian dikasih sapu tangan hangat, buat menghangatkan tangan kita. Setelah itu, kita disuguhkan sarapan. Ada omlet, teh hangat, buah, roti,dll. Sungguh, ini pengalaman pertamaku di bangku eksekutif (norak banget,hehhe).
Tapi di balik kesenanganku itu, aku menyaadari, kalau aku ini pulang, bukan dalam rangka mau liburan. Tapi mau melepas kepergian nenek. Hiks, aku sedih lagi. Sekarang nenek sedang terbaring kaku menunggu kedatangan kami.
***
Kami pun landing di bandara Internasional Minangkabau sekitar pukul 7.30 WIB. Perjalanan kami belum berakhir. Untuk mencapai rumah, kami harus naik mobil dulu selama 3 jam.
Di perjalan, aku berfikir, ntar sesampainya di rumah aku harus sabar, berusaha untuk tidak terlalu histeris.
Kami sampai pukul 11.00 WIB. Masih 100 m lagi menuju rumah, tapi aku sudah melihat keramaian di depan rumahku. Di depan rumah sudah terpasang sebuah tenda, untuk para pelayat. Dag dig dug…jantungku kembali berdetak kencang. Mamaku membuka pintu mobil, dan aku pun tak kuasa menahan tangisku. Sambil dituntun mamaku, aku terus menangis sekencang-kencangnya. Bahkan aku tidak langsung dibawa melihat nenekku di atas rumah, karena khawatir aku akan histeris di sana.
Tapi beberapa lama kemudian, aku naik ke atas rumah. Nenek yang melepas kepergianku 5 bulan yang lalu, sekarang sudah tak bergerak lagi ketika aku pulang. Padahal aku ingin mengatakan kepada nenek, bahwa sekarang aku sudah bisa masak. Tidak seperti dulu, dulu aku nggak bisa masak apa-apa. Di Jakarta, aku sudah merencanakan, kalau aku pulang nanti, aku akan pamer ke nenek, kalau aku sudah pintar masak, dan akan masak buat nenek. Tapi sekarang, nenek nggak bakal menanggapi aku,,,Neek..ngomong doong…Itu semua nggak mungkin, aku harus mengikhlaskan kepergian nenek. Selamat jalan, nenekku sayaaang..!!!
Gria Jakarta, 18 Maret 2010, 22.00 WIB,
bercucuran air mata…
Hobi Q Mengoleksi Undangan
Aq gak tau kenapa tiba- tiba aq seneng banget mengumpulkan undangan. Seperti : undangan pernikahan, khitanan, dan aqikahan. Pertamanya aq hanya ngumpulin undangan yang buat aq saja. Aq bangga, karena undangan itu khusus buat aq,, bukan untuk keluarga q. Kadang ada temen- temen q yang saudara x nikahan, mereka ngundang aq. Sampai terkumpul sekitar 10 undangan. Awalnya hanya q tumpuk saja di atas lemari belajar q. Sayang aja kalau dibuang, pikir q. Sampai akhir x, aq punya ide buat memajang x di kepala tempat tidur q.
Mhmm,,,baru 7...!!!gimana kalau aq hunting undangan saja???gak mungkin kan aq nungguin aq dapat undangan lagi??? Sejak itu aq mengumpulkan undangan dari mana saja. Pertama, semua undangan yang ada di rumah q. Truz tetangga- tetangga q juga aq mintai undangan yang sudah lewat tanggal acara x. Sampai di sekolah aq memberitahukan temen- temen q,,aq bilang gini, " Temen- temen yang punya undangan di rumah,, bagi aq doonk...aq mau ngoleksi" kata q. Temen- temen q cuma ketawa ndengerin aq, "Ngapain qm ngoleksi undangan??mau nikah???" kata mereka meledek q.
"Seneng aja, daripada dibuang kan???" jawab q santai.
Walaupun aq ditertawain oleh mereka, tapi ada juga yang mau memberikan q undangan, nama x Hamdhy.
" Cha, aq punya banyak undangan di rumah. Undangan buat bokap q. Sekarang sech aq gak tw dimana, soalnya gak dikumpulin,kalo qm mau, ntar aq cariin dech" tawar x.
" Duh, qm baek banget Hamdhy...bener ya,,besok qm bawain" jawab q seneng.
Keesokan hari x Hamdhy beneran bawain aq undangan, ada sekitar 15 undangan. Bagus- bagus banget lagi. Hampir semua x undangan- undangan dari pejabat Sumbar. Ada juga yang dari Bapak Gamawan Fauzi, gubernur Sumbar pada waktu itu. Aq tau papa x Hamdhy adalah salah satu pejabat di Kab. 50 kota, gak heran juga kalau beliau punya banyak undangan dari pejabat- pejabat juga.
Gak terbayang betapa senengnya hati q waktu itu, walaupun Hamdhy sering perang mulut dengan q, tetapi dy ternyata orang x baek juga.
Hamdhy adalah teman sekelas q di kelas XII IPA 1, SMA 1 Guguak, Payakumbuh, Sumbar. Dy orang x kocak banget. Kadang suka jailin temen- temen cewek q. Memang semua temen- temen cewek suka berteman dengan Hamdhy. Hampir semua cewek diledekin sama dy,, ada- ada saja panggilan buat mereka, termasuk aq. Yang membuat kami sering geram kepadanya. Tapi semua itu hanya sebatas bercanda saja.
Guru yang sedang mengajar di kelas kami, sering ketawa melihat kocakan- kocakan Hamdhy . Ada- ada saja kata- kata Hamdhy yang membuat kami gak tahan menahan tawa. Pokok x "Gak Ada Hamdhy, Gak Rame Dech"
Pernah beberapa hari Hamdhy gak masuk, karena sakit. Sumpah, kelas kami sepi banget. Malah guru yang masuk buat ngajar jadi bengong, rasanya kok ada yang kurang ya???agak beda dari biasa, kata salah seorang guru kami.
" Hamdhy sakit Buuk" teriak kami serempak.
" O..iya ya...pantesan" kata guru kami sambil tersenyum.
( Ooops, kok malah nyeritain Hamdhy sech???topik qt tadi kan undangan,,heheheh :-))
Kembali lagi masalah undangan,,,
Sejak itu, tiap Hamdhy punya undangan- undangan yang baru, dy selalu memberikannya kepada q,,,Huuhuhuhu, seneng x dalam hati...^_^ Makasih Hamdhy....
Eeh, suatu hari Hamdhy bilang pada q, "Cha, Hamdhy pinjam donk undangan yang warna kecoklatan yang Hamdhy kasih dulu, kakak Hamdhy mau nikah, jadi buat contoh, gak apa- apa kan?" tanya x pada q.
" Oh ya, besok Cha bawain" kata q.
Keesokan hari x aq memberikan undangan itu kepada Hamdhy.
Nech aq kasih tw, sumber- sumber undangan q:
1. Undangan yang memang buat q
2. Undangan yang buat keluarga q
3. Hamdhy
4. Sari
5. Mela
6. Thia
7. Anez,
Anez juga sering nyariin undangan buat aq, kadang bukan undangan yang di rumahnya saja , tetapi waktu dy liat undangan di sekretariat bimbel GO (Ganesha Operation), juga juga memintakan x buat aq, karena Anez emang akrab sama kakak2 d GO.Truz Anez nganterin undangan itu buat aq, baek banget kaan??? Thank Naneez....^_^
Pernah juga Anez nganterin undangan yang terbuat dari beludru ke rumah q, bagus juga..heheh...
8. Kadang aq liat undangan di tempat fto copy, aq juga memintanya, dengan alasan buat dikoleksi
9. Waktu aq ke SMP 2 t4 mama q ngajar, aq juga liat undangan, aq minta juga,,huhuhu..ngapain malu, buat kesenangan??^_^, mama q juga sering nyariin aq undangan di sekolahnya.
10. Pokok x dimana aja dech...yang penting ada undangan...
Jadi, setiap ada yang masuk kamar q, pasti kaget liat undangan d kepala t4 tidur q
"Ih undangan sebanyak itu, buat apaan Cha???"
Kembali aq menjawab sambil tersenyum," Seneng aja".^_^
Kenapa aq seneng ngumpulin undangan???
1. sayang kan kalau undangan sebagus- bagus itu kalau dibuang
2. yaa paling kurang aq bisa liat- liat model undangan terbaru n' merancang kaya' apa undangan buat pernikahan aq ntar,,hahahhhahh,,,,:D
3.pokok x seneng aj..
Tapi sekarang undangan- undangan aq itu di kampung, aq gak bisa membawanya ke Jakarta,karena banyak banget. Tapi disini aq udah mulai ngumpuli lagi, tapi baru sekitar 10 undangan...bagus-bagus..he hehe...
Ne...aq kasih foto undanga- undangan q....sebenar x masih banyak lagi, tapi gak muat d kepala t4 tidur q...:-(
Mhmm,,,baru 7...!!!gimana kalau aq hunting undangan saja???gak mungkin kan aq nungguin aq dapat undangan lagi??? Sejak itu aq mengumpulkan undangan dari mana saja. Pertama, semua undangan yang ada di rumah q. Truz tetangga- tetangga q juga aq mintai undangan yang sudah lewat tanggal acara x. Sampai di sekolah aq memberitahukan temen- temen q,,aq bilang gini, " Temen- temen yang punya undangan di rumah,, bagi aq doonk...aq mau ngoleksi" kata q. Temen- temen q cuma ketawa ndengerin aq, "Ngapain qm ngoleksi undangan??mau nikah???" kata mereka meledek q.
"Seneng aja, daripada dibuang kan???" jawab q santai.
Walaupun aq ditertawain oleh mereka, tapi ada juga yang mau memberikan q undangan, nama x Hamdhy.
" Cha, aq punya banyak undangan di rumah. Undangan buat bokap q. Sekarang sech aq gak tw dimana, soalnya gak dikumpulin,kalo qm mau, ntar aq cariin dech" tawar x.
" Duh, qm baek banget Hamdhy...bener ya,,besok qm bawain" jawab q seneng.
Keesokan hari x Hamdhy beneran bawain aq undangan, ada sekitar 15 undangan. Bagus- bagus banget lagi. Hampir semua x undangan- undangan dari pejabat Sumbar. Ada juga yang dari Bapak Gamawan Fauzi, gubernur Sumbar pada waktu itu. Aq tau papa x Hamdhy adalah salah satu pejabat di Kab. 50 kota, gak heran juga kalau beliau punya banyak undangan dari pejabat- pejabat juga.
Gak terbayang betapa senengnya hati q waktu itu, walaupun Hamdhy sering perang mulut dengan q, tetapi dy ternyata orang x baek juga.
Hamdhy adalah teman sekelas q di kelas XII IPA 1, SMA 1 Guguak, Payakumbuh, Sumbar. Dy orang x kocak banget. Kadang suka jailin temen- temen cewek q. Memang semua temen- temen cewek suka berteman dengan Hamdhy. Hampir semua cewek diledekin sama dy,, ada- ada saja panggilan buat mereka, termasuk aq. Yang membuat kami sering geram kepadanya. Tapi semua itu hanya sebatas bercanda saja.
Guru yang sedang mengajar di kelas kami, sering ketawa melihat kocakan- kocakan Hamdhy . Ada- ada saja kata- kata Hamdhy yang membuat kami gak tahan menahan tawa. Pokok x "Gak Ada Hamdhy, Gak Rame Dech"
Pernah beberapa hari Hamdhy gak masuk, karena sakit. Sumpah, kelas kami sepi banget. Malah guru yang masuk buat ngajar jadi bengong, rasanya kok ada yang kurang ya???agak beda dari biasa, kata salah seorang guru kami.
" Hamdhy sakit Buuk" teriak kami serempak.
" O..iya ya...pantesan" kata guru kami sambil tersenyum.
( Ooops, kok malah nyeritain Hamdhy sech???topik qt tadi kan undangan,,heheheh :-))
Kembali lagi masalah undangan,,,
Sejak itu, tiap Hamdhy punya undangan- undangan yang baru, dy selalu memberikannya kepada q,,,Huuhuhuhu, seneng x dalam hati...^_^ Makasih Hamdhy....
Eeh, suatu hari Hamdhy bilang pada q, "Cha, Hamdhy pinjam donk undangan yang warna kecoklatan yang Hamdhy kasih dulu, kakak Hamdhy mau nikah, jadi buat contoh, gak apa- apa kan?" tanya x pada q.
" Oh ya, besok Cha bawain" kata q.
Keesokan hari x aq memberikan undangan itu kepada Hamdhy.
Nech aq kasih tw, sumber- sumber undangan q:
1. Undangan yang memang buat q
2. Undangan yang buat keluarga q
3. Hamdhy
4. Sari
5. Mela
6. Thia
7. Anez,
Anez juga sering nyariin undangan buat aq, kadang bukan undangan yang di rumahnya saja , tetapi waktu dy liat undangan di sekretariat bimbel GO (Ganesha Operation), juga juga memintakan x buat aq, karena Anez emang akrab sama kakak2 d GO.Truz Anez nganterin undangan itu buat aq, baek banget kaan??? Thank Naneez....^_^
Pernah juga Anez nganterin undangan yang terbuat dari beludru ke rumah q, bagus juga..heheh...
8. Kadang aq liat undangan di tempat fto copy, aq juga memintanya, dengan alasan buat dikoleksi
9. Waktu aq ke SMP 2 t4 mama q ngajar, aq juga liat undangan, aq minta juga,,huhuhu..ngapain malu, buat kesenangan??^_^, mama q juga sering nyariin aq undangan di sekolahnya.
10. Pokok x dimana aja dech...yang penting ada undangan...
Jadi, setiap ada yang masuk kamar q, pasti kaget liat undangan d kepala t4 tidur q
"Ih undangan sebanyak itu, buat apaan Cha???"
Kembali aq menjawab sambil tersenyum," Seneng aja".^_^
Kenapa aq seneng ngumpulin undangan???
1. sayang kan kalau undangan sebagus- bagus itu kalau dibuang
2. yaa paling kurang aq bisa liat- liat model undangan terbaru n' merancang kaya' apa undangan buat pernikahan aq ntar,,hahahhhahh,,,,:D
3.pokok x seneng aj..
Tapi sekarang undangan- undangan aq itu di kampung, aq gak bisa membawanya ke Jakarta,karena banyak banget. Tapi disini aq udah mulai ngumpuli lagi, tapi baru sekitar 10 undangan...bagus-bagus..he
Ne...aq kasih foto undanga- undangan q....sebenar x masih banyak lagi, tapi gak muat d kepala t4 tidur q...:-(
Langganan:
Postingan (Atom)